SELAMAT DATANG DI BLOG PARA PECINTA HABAIB DAN KYAI NU

Thursday, March 31, 2016

RA Kartini dan Kyai Sholeh Darat, Sejarah Bangsa yang Digelapkan Orientalis Belanda


“Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya.  Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari  ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya,  sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa  yang saya pahami.”.
Salah satu murid Mbah Kyai Sholeh Darat yang terkenal, tetapi bukan dari kalangan ulama adalah Raden Ajeng Kartini. Karena RA Kartini inilah Mbah Sholeh Darat menjadi pelopor penerjemahan Al-Qur’an ke Bahasa Jawa. Menurut catatan cucu Kyai Sholeh Darat (Hj. Fadhilah Sholeh), RA Kartini pernah punya pengalaman tidak menyenangkan saat mempelajari Islam. Guru ngajinya memarahinya karena dia bertanya tentang arti sebuah ayat Qur’an.

Kitab Shalat Karya Mbah Sholeh Darat (Lathoifut Thoharoh wa Asrorus Shalah)

Semarang, NU Online
Anda sulit shalat khusyuk? Anda ingin bisa konsentrasi dalam shalat, sehingga bisa seperti Kanjeng Nabi? Baca kitab Mbah Sholeh Darat dan ikuti ajaran-ajarannya.

Kitab yang dimaksud adalah Lathoifut Thoharoh wa Asrorus Shalah. Dalam rangka Haul ke-112 sang waliyullah, digelar bedah kitab ini oleh Dr. H. Muh In’amuzzahidin, M.ag dan Gus Lukman Hakim Saktiawan, keduanya dzurriyyah Mbah Sholeh Darat, serta Ketua PCNU Kota Semarang H. Anasom.

Acara yang digelar di Masjid KH Sholeh Darat, Jl. Kakap Darat Tirto 212 Kelurahan Dadapsari Kecamatan Semarang Utara pada Ahad (26/8) ini dihadiri 150-an orang dari berbagai lapisan.

KH. Sholeh bin Umar As-Samarani (Mbah Sholeh Darat) Guru R.A. Kartini

KH. Sholeh bin Umar As-Samarani (Mbah Sholeh Darat)

MBAH SHOLEH DARAT
Guru R.A. Kartini

Nama lengkapnya adalah Muhammad Saleh bin Umar As-Samarani, yang dikenal dengan sebutan Mbah Soleh Darat, hidup sezaman dengan Syekh Nawawi Banten dan Syekh Kholil Bin Abdul Latif Bangkalan Madura, lahir di Kedung Cemlung, Jepara pada tahun 1235 H./1820 M., dan wafat di Semarang pada hari Jum’at 29 Ramadhan 1321 H. atau 18 Desember 1903 M. Ketiga ulama yang berasal dari Jawa itu juga sezaman dan seperguruan di Mekah dengan beberapa ulama dari Patani diantaranya adalah Syekh Muhammad Zain bin Mustafa Al-Fathani (Lahir 1233 H./1817 M., wafat 1325 H./1908 M.). Mereka juga seperguruan di Makkah dengan Syekh Amrullah (Datuk Prof. Dr. Hamka) dari Minangkabau, Sumatera Barat.