“Selama
ini Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya.
Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna
tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa
yang saya pahami.”.
Salah
satu murid Mbah Kyai Sholeh Darat yang terkenal, tetapi bukan dari
kalangan ulama adalah Raden Ajeng Kartini. Karena RA Kartini inilah Mbah
Sholeh Darat menjadi pelopor penerjemahan Al-Qur’an ke Bahasa Jawa.
Menurut catatan cucu Kyai Sholeh Darat (Hj. Fadhilah Sholeh), RA Kartini
pernah punya pengalaman tidak menyenangkan saat mempelajari Islam. Guru
ngajinya memarahinya karena dia bertanya tentang arti sebuah ayat
Qur’an.
